Reflektif: Mengubah Pandangan tentang Shalat – Ust Sholahuddin – Masjid Muhajirin Josroyo Indah
  • web ini memuat informasi tentang kegiatan Masjid muhajirin
Minggu, 18 Januari 2026

Reflektif: Mengubah Pandangan tentang Shalat – Ust Sholahuddin

Reflektif: Mengubah Pandangan tentang Shalat - Ust Sholahuddin
Bagikan

Dulu, kita shalat karena takut. Takut dosa, takut neraka, takut dimarahi orang. Shalat menjadi rutinitas kosong—sekadar menggugurkan kewajiban. Kita berdiri, rukuk, sujud… tetapi hati entah di mana. Mulut bergerak, tapi jiwa diam.

Namun ketika hati mulai mengenal Rabb-nya, segalanya berubah.
Shalat tak lagi terasa seperti beban, tapi jadi pelabuhan tenang di tengah badai dunia.
Shalat menjadi rumah. Tempat kita pulang, menumpahkan letih, luka, rindu, dan air mata.
Di sana, kita tak harus kuat. Di sana, kita boleh mengaku rapuh.

Dan ketika dahi menempel di sajadah, kita tak ingin cepat bangun.
Karena di titik paling rendah itu, ternyata ada kedekatan paling tinggi.

Kita mulai memahami, bahwa ucapan “Iyyāka na‘budu wa iyyāka nasta‘īn” bukan sekadar hafalan,
tapi seruan hati yang letih — yang berkata:
“Hanya Engkau yang aku sembah, dan hanya kepada-Mu aku mohon pertolongan.”

Strategi Rinci Menghidupkan Shalat

1. Bangun Kesadaran Tujuan Shalat

Renungkan setiap hari: “Untuk apa aku shalat?”

Tulis jawaban dalam satu kalimat, contoh: “Karena aku ingin dekat dengan Allah, bukan sekadar gugurkan kewajiban.”

2. Jadikan Setiap Wudhu Sebagai Ritual Pensucian Jiwa

Ambil wudhu perlahan, sadari setiap aliran air.

Niatkan: “Ya Allah, sucikanlah jasad dan hatiku.”

3. Persiapkan Diri Sebelum Shalat (1–2 menit)

Duduk sejenak sebelum takbir. Tarik napas dalam, dan katakan dalam hati:

* *“Aku akan berdiri menghadap Tuhan langit dan bumi.”*

Fokuskan niat: “Ya Allah, izinkan aku berbicara dengan-Mu.”

4. Pelajari dan Hayati Makna Bacaan

Setiap hari, pilih satu kalimat dalam shalat (contoh: “Subhāna Rabbiyal A‘lā”) dan renungkan maknanya.

Baca dengan lambat dan sadar — bukan seperti kaset yang diulang otomatis.

5. Jadikan Sujud Sebagai Momen Terdalam

Sujud lebih lama, jangan tergesa.

Gunakan sujud untuk mengungkapkan isi hati:

* *“Ya Allah, aku lelah. Aku lemah. Tapi Engkau tahu aku masih mencintai-Mu.”*

6. Perbaiki Shalat Sunnah

Mulai dengan shalat rawatib dan dua rakaat qiyamullail.

Jadikan sunnah sebagai “hadiah pribadi” untuk Allah, bukan sekadar tambahan.

7. Ciptakan Atmosfer Sakral Saat Shalat

Gunakan pakaian terbaik.

Shalat di tempat tenang, bersih, dan wangi.

Matikan HP atau jauhkan gangguan.

8. Lakukan Muhasabah Setelah Shalat

Diam sejenak, renungkan: “Apakah tadi aku sudah betul-betul berbicara dengan Allah?”

Tulis poin refleksi di jurnal harian (bisa 1–2 kalimat saja).

9. Berdoa dari Hati, Bukan dari Hafalan Saja

Setelah shalat, angkat tangan dan bicara jujur kepada Allah.

Tidak harus panjang, cukup dari hati: “Ya Allah, bahagiakan aku dengan dekat kepada-Mu.”

10. Jadikan Shalat Prioritas, Bukan Sisa Waktu

Atur kegiatan harian mengikuti waktu shalat, bukan sebaliknya.

Shalat di awal waktu, karena cinta tak suka ditunda.

Jika kamu konsisten menerapkan ini, insyaAllah, suatu hari kamu akan merindukan waktu shalat — bukan karena takut, tapi karena cinta.

SelanjutnyaMEMENEJ HATI & PIKIRAN
Masjid Muhajirin Josroyo Indah
Perum Josroyo Indah, Desa Jaten, Kec. Jaten, Kab. Karanganyar 57331