ALLAH TIDAK TERIKAT OLEH RUANG DAN WAKTU – Masjid Muhajirin Josroyo Indah
  • web ini memuat informasi tentang kegiatan Masjid muhajirin
Minggu, 18 Januari 2026

ALLAH TIDAK TERIKAT OLEH RUANG DAN WAKTU

ALLAH TIDAK TERIKAT OLEH RUANG DAN WAKTU
Bagikan

Allah ada sebelum penciptaan tempat dan waktu, dan Dia tidak terikat oleh keduanya. Allah tidak membutuhkan tempat atau arah seperti makhluk-Nya.

Firman Allah:

ليس كمثله شيئ وهو السميع البصير

Dia tidak seperti apapun, dan Dia Maha Mendengar dan Maha Melihat
(As-Syura:11)

Ayat tersebut adalah dalil(hujjah) bahwa Allah tidak berada di dalam Alam semesta ataupun di luar alam.
Allah tidak dapat digambarkan dengan sifat-sifat makhluk, seperti perubahan dari satu keadaan ke keadaan lain.
Jika Allah ada di dalam Semesta atau di luar semesta, berarti Allah serupa dengan makhluk.
Jika Allah ada di dalam semesta, maka Allah sejenis dengan makhluknya

Dan, jika Allah dianggap berada di luar semesta, maka konsekwensinya adalah apakah Allah itu nempel dengan semesta atau berjarak dengannya. Sehingga kita harus menentukan arah keberadaanNya. padahal Allah sudah ada sebelum semuanya ada, termasuk arah, ruang dan waktu.

كان الله ولم يكن قبله شيئ

Keberadaan Allah tidak didahului oleh apapun sebelumnya. (HR Bukhari).

Artinya, keberadaanNya tidak membutuhkan ruang, waktu maupun arah. Karena sebelum semua itu ada Allah sudah ada.

Pertanyaannya, apakah logis suatu yang wujud tanpa diketahui arahnya?

Jangankan Tuhan yang memang berbeda dengan makhluk. Sebagian makhlukNya saja, kita tidak bisa menentukan arahnya. Misalnya:

▫️Cinta dan benci.
Tidak diragukan sedikitpun bahwa Keduanya ada. Ketika seseorang jatuh cinta, ia ada pada dirinya. Begitu halnya dengan benci. Dan kita tidak membutuhkan bukti fisik atas keberadaannya, serta arah dari cinta dan benci itu pada dirinya. Jika kita sepakat akan hal ini, artinya kita juga sepakat tentang adanya suatu yang wujud walaupun keberadaanya tidak bisa ditentukan arahnya(jihah).

▫️Sebelum menikah dan mempunyai anak, seorang laki-laki bukan seorang bapak. Setelah menikah dan mempunyai anak jadilah ia seorang bapak. Artinya, ia mendapat predikat baru, yaitu sifat “kebapaan” (ubuwwah). Keberadaan sifat kebapaan ini tidak menuntut ketentuan “arahnya” untuk diyakini keberadaannya.

 Begitu juga dengan Allah, yang memang sifatNya tidak terikat oleh ruang dan waktu, sangat logis jika kita tidak bisa menentukan arahNya, walaupun keberadaanNya sangat pasti dan meyakinkan.


Husn al Muhajajah
Fi Bayan Annallah Ta'ala la Dahila al Alam wa la Kharijah
(Said Faudah)

14/9/2025
Nun wal Qalam

SebelumnyaMAKSIMAL DENGAN BAKAT MASING-MASINGSelanjutnyaAl-Qur’an akan Menjadi Syafaat di Hari Kiamat.
Masjid Muhajirin Josroyo Indah
Perum Josroyo Indah, Desa Jaten, Kec. Jaten, Kab. Karanganyar 57331